event

Menulis Dengan Cinta, Workshop Bareng Dini Fitria

Senin, Februari 19, 2018

"Mereka punya ciri khas ya, apa aku juga punya?"

Pernah nggak berpikir seperti itu setelah blogwalking? Ciri khas yang saya maksud di sni adalah gaya tulisan. Ada yang bahasa formal tapi masih enak dibaca, ada yang bahasa kekinian dan tetap informatif. Karena sadar saya belum bisa menuangkan informasi dengan santai, dinikmati semua orang akhirnya mendaftarkan diri untuk mengikuti workshop yang diadakan Komunitas ISB.

Peserta Workshop 'Menulis Dengan Cinta'
flyer acara
Tanggal 15 februari itu saya datang terlalu pagi, tapi ada hikmahnya, punya kenalan baru dan ngobrol panjang lebar soal blogging. Tema yang dibahas hari itu adalah Menulis dengan cinta. Dengan narasumber novelis, mba Dini Fitriani yang karyanya, Hijrah Cinta, Islah Cinta dan Muhasabah Cinta. Jadi semangat deh!

Dini Fitria dan Komunitas ISB
Lokasi workshop ini diadakan di JSC Hive, sebelum acara dimulai, teh Ani Berta yang pagi itu menjadi moderator. Oh iya, Teh Ani adalah pendiri Komunitas ISB, Kalau pingin ikut workshop seru dan berfaedah seperti ini ikutin sosmednya ya @komunitasisb biar nggak ketinggalan!

Saat mengetahui kalau Mba Dini Fitria dulunya bekerja sebagai seorang jurnalis, feeling saya berubah dari santai ke cemas. Flashback pernah diomelin dosen mata kuliah jurnalis bikin deg-degan, hahaha.

Mba Dini Fitria
Ternyata banyak acara yang ada di Televisi yang digarap mba Dini. Saya yakin skill menulisnya nggak perlu diragukan lagi. Dengan tema Menulis Dengan Cinta  atau lebih tepatnya.. Mengungkapkan rasa lewat cerita, kami diajak mengoreksi masing-masing. Dan untuk saya pribadi jadi teringat pelajaran 1 semester dulu, mantab.

Sebelumnya kita diingatkan, apa sih tugas blogger? Secara garis besar, blogger bertugas menyampaikan informasi lewat tulisan. Agar pembaca paham dengan isi artikel, blogger harus memiliki skill menulis yang baik dalam menyampaikan informasi.

Si A menulis dengan bahasa gaul, si B menulis dengan bahasa formal nan santai dan si C dengan gaya bahasa mix and match. Mereka konsisten dan punya ciri khas yang disukai pembacanya. Kalau saya kayaknya belum sampai situ.. Dan kami dikenalkan dengan Feature Stories!

Workshop 'Menulis Dengan Cinta'
Pengertian feature stories adalah cerita fakta yang diungkapkan dengan perasaan. Jadi penulis menyampaikan informasi dengan cara unik seperti  . Seperti baca cerpen, kalau pembawaan cerita ringan dan punya alur yang bagus kita nggak bosan, kan?

Saat kita menulis feature stories Mba Dini menjelaskan lebih baik kita tulis hal yang kita sukai, yang pernah dialami, dan kita pahami. Kalau kita pernah mengalami kejadian secara langsung, otomatis menulisnya mengalir. Contohnya seperti ini..

Lip paint Zoya ini keren, warnahnya cihuy bikin kamu kelihatan wow.

Teksturnya yang kental membuktikan kalau lip paint dari Zoya punya tingkat pingmentasi yang keren, sekali oles, warna bibir bisa di-cover dengan baik!
 
Lebih enak baca kalimat ke dua, ya? Padahal intinya sama. 
 
JSC Hive tempatnya nyaman, bersih, keren.

Di JSC Hive suasananya asyik, disediakan bantal warna-warni dan empuk, seru buat foto-foto. Ditambah lagi ada AC, kalau selonjoran 5 menit bisa ketiduran.  
 
Enakanya kalimat yang ini daripada yang atas, kan?

Sembari mendengarkan penjelasan Mba Dini, saya langsung teringat postingan jadul awal saya membuat blog. Terlalu singkat dan nggak ada nyawanya.

Belum lagu dalam menyampaikan feature stories kita juga harus memperhatikan alur yang teratur. A-B-C-D-E deh.. Lagi, saya teringat tulisan tahun 2012 yang tidak beraturan seperti A-C-E-D-C-B...*pijat kening*

Di workshop ini, kami diberitahu rumus feature stories yakni:
1. Bertutur
2. Deskriptif (menjelaskan suatu event, tempat, benda dengan gamblang)
3. Informatif
4. Gaya penulisan (naratif, imajinatif, prosais dan indah)
5. Tak perlu berkiblat pada aturan 5W+1H
6. Human of interest

Untuk bertutur dan gaya bahasa, menurut saya adalah bagaimana kita menyampaikan inti postingan. Awal menulis saya masih belum bisa konsisten pakai aku-saya-gue, untung udah tobat. Untuk postingan serius seperti liputan dan lomba biasanya menggunakan saya. Kalau postingan review lebih asyik memakai aku, santai bacanya.

Dulu, dosen saya menjelaskan kalau menulis harus menggunakan 5W+1H (what, where, when, who, why and how) agar berita jelas dan padat. Ternyata untuk menulis di blog tidak perlu serinci itu, apalagi yang ditulis review skin care dan curhat. Maklum waktu itu dapat matkul jurnalis untuk reportase di TV, jadi memang wajib memakai 5W+1H.

Human of interest, yang saya tangkap dari penjelasan Mba Dini Fitria adalah kenali pembaca/pengunjung blog. Kita menulis untuk siapa? Remaja? Dewasa tanggung? Orangtua? Generasi micin? Sesuaikan dengan pemikiran target audience.

Mau membuat feature stories? Gunakan teknik story telling. Yang pernah ikut workshop menulis cerpen pasti akrab dengan "Show, not tell" Jadi kita mendeskripsikan dengan membeberkan keadaan yang terjadi, biar pembaca bisa berimajinasi dan memahami apa yang dimaksud penulis.

Dia patah hati.
Air matanya jatuh tak tertahan, bibirnya bergetar menahan isak tangis.
Beda, kan?

Mba Dini Fitria menjelaskan kalau teknik story telling memberikan kesan pada pembacanya. Menulis dengan gaya curhat ini membuat pembaca bisa merasakan emosi si penulis. Coba lihat postingan IG akun ojek online, mereka menceritakan kisah mas ojol yang banting tulang-membuat kita bersyukur dan termotivasi.

teknik menulis feature stories
Jenis feature stories ada banyak dan umumnya dekat dengan kejadian sehari-hari, misalnya cinta (eaa) travel, kesulitan, kecelakaan, kesedihan, inspirasi.

Selama workshop berlangsung, Mba Dini Fitria sering mengatakan "Kalimat pertama itu penting! Paragraf pertama nggak perlu panjang dan bertele-tele." Setuju banget, seperti baca buku saja. Kalau bab 1-nya terlalu panjang rasanya malas melanjutkan halaman selanjutnya.

Mba Dini juga menyarankan kita menulis pengalaman kita dengan korelasi yang akrab di masyarakat, tujuannya agar pembaca merasa senasib. Bisa dari kejombloan, atau susah kurus misalnya, hehe.. heeeeh.. *sighs*

Agar tulisan enak dibaca otomatis kita harus punya kosa kata yang banyak, caranya dengan banyak membaca. Baca tulisan ringan sampai berat sesuai minat, deh. Dijamin tambah ilmu juga kosa kata.

Setelah workshop selesai, saya jadi semangat menulis lagi. Jadi pingin coba ikut lomba bikin cerpen dan puisi lagi. Semoga bisa konsisten dalam menulis di tahun 2018 ini, amiin!

Acara workshop ini disponsori oleh C2LIVE, EHIVE, Kulina, Shafira www.shafira.com , ZOYA www.zoya.co.id dan ZOYA COSMETICS.

Semoga postingan ini bermanfaat dan informatif, ya!

You Might Also Like

54 komentar

  1. Sampe sekarang aku masih belum tau, artikelku itu ada ciri khasnya atau ga, hahahaha pengen banget membangun ciri khas itu tp kok susah ya, gaya bahasaku masih sesuka ku sendiri ahhahaha,
    workshopnya pasti seru banget ya mbak, dpt byk ilmu tentunya.

    ursulametarosarini.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. kata mba Dini kemarin harus pakai rasa, jadi tuangin apa yang ada di pikiran dalam tulisan. dan pastinya jam terbang menulis juga. aku juga masih latihan >.<

      Hapus
  2. iya mba, terkadang aku juga lihat banyak dari postingan paragraf pertama itu panjang banget, banyak cerita dan bertele tele gitu...

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, kalau baca buku pelajaran apalagi, mata langsung merem -_-

      Hapus
  3. Aamiin semoga 2018 kita konsisten menulis di blog ya fi

    BalasHapus
  4. Habis baca postingan mbak ini terus liat tulisanku ternyata tilisanku amburadul, maklum nulisnya asal ide keluar langsung di tuangin

    BalasHapus
    Balasan
    1. gapapa mas, kan bisa dibuah nantinya. daripada kebanyakan mikir mau nulis apa dan nggak nulis2 *saya saat bikin skripsi*

      Hapus
  5. Saya sampai sekarang masih galau pakai Anda atau Kamu waktu nulis blog 😅

    Oya, maksudnya paragraf pertama nggak usah bertele-tele itu gimana ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Paragraf pertama itu jadi acuan pembaca, apa mau melanjutkan membaca sebuah artikel atau tidak. Cukup 5 kalimat pendek atau 3 kalimat yang panjang (aku dapat dari workshop Asma Nadia)

      Kalau nulis yang formal enaknya pakai saya dan kalian ^^

      Hapus
    2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

      Hapus
    3. I see...

      Berarti kalian itu kesannya formal ya. Kirain berkesan kaya menggurui gitu. Siip deh...langsung praktek bis gini.

      Thanks ya bun 😊

      Hapus
    4. Kalian juga bisa buat informal kok, mau lebih gaul pakai : loe-loe pada 😂

      Sama-sama, tapi saya belum berkeluarga wkwkwk 😂 panggil mba aja hehe

      Hapus
  6. Alhamdulillah dapet banyak ilmu baru ya mba sehingga kita bisa semakin memperbaiki tulisan kita

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, mba, dapet ilmu dan kenalan baru juga. Seneng deh ketemu mba Amalia ^^

      Hapus
  7. Wahh terimakasih Fii untuk ilmunya. Bermanfaat banget untuk pemula seperti aku :)

    www.marudiyafu.com

    BalasHapus
  8. beruntungnya aaya udah tobat mbak, zaman dulu kalaaa, di blog lama saya mau pakai saya-gue-aku-ane aja galau minta ampun. ga konsisten, di postingan a jumpa aku, di b jumpa saya, c jumpa ane, hahaha, blepotan rasanya.

    yahhh kalau sekarang sih saya udah mendingan lah, pakai saya dan kamu terus, karena human of interest nya pemuda pemudi umur 20 tahunan,

    butuh waktu juga untuk belajar yang seperti ini, eh belajarnya sih sebentar tapi praktiknya yang harus lama biar terbiasa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Namanya juga awal belajar, asal mau dan tekun belajar pasti bisa berkembang lebih baik 👍 semangats!

      Hapus
  9. Tulisan saya amburadul
    tapi saya sudah sedikit merubah gaya penulisan sampai hari ini.
    Kalo paragraf pembuka pun saya melihat bagaimana diri saya sndiri jika membaca bertele2 rasanya gak betah.
    jd mencoba berubah jg, dari berapa baris stiap paragraf gimana menempatkan diri saya sbgai pembaca aja. kalo di rasa gak nyaman bgitupun orang yang akan membaca
    artikel ini sangat bermanfaat untuk saya agar terus memperbaiki tulisan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya pun masih belajar gimana bikin paragraf pertama yang asik dan bikin pembaca penasaran.. Semoga kedepannya bisa lebih baik, amin

      Hapus
  10. Wah, cantik yaa mbak dini itu. hehehe maksudnya ilmunya itu bagus juga buat blogger.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ilmu dan narasumbernya keren 😄

      Hapus
  11. Hmmm... seiring bergulirnya waktu, lama kelamaan akan terasah sih ya gimana menulis yang enak dan buat orang ga pengen cepet kabur. Bisalah ini jadi contoh. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Practice makes perfect ya mas, insya allah saya bisa, amin!

      Hapus
  12. Banyak pola yang musti dibenahi setelah menyerap ilmu dari Mba Dini :)
    Nice post Mba, rangkumanya kece

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih banyak, mbaa.. Masih banyak yg harus diperbaiki nih tulisan saya >_<

      Hapus
  13. Yampun, kalimat pembukanya buatku bertanya juga mbak. Hahahha

    BalasHapus
  14. Contoh yang mbak berikan dekat banget ya sama keseharian. Ada generasi micin, ada abang ojol. Kereeen.

    BalasHapus
  15. Aah contoh kalimatmu udah keren tuh! Aku nih yang perlu latihan lagi merangkai kata-kata.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yuk semangat mba, kita bisa! 😄

      Hapus
  16. Semoga terwujud niatmu buat ikut lomba puisi ya mba

    BalasHapus
  17. udah dapet ilmunya nih kita tinggal proses meningkatkan diri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Butuh proses yang panjang tapi ga boleh nyerah hehe

      Hapus
  18. Aku beruntung bisa datang di acara itu, ilmunya keren

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ilmu baru dan kenalan baru 😊

      Hapus
  19. Aku juga masih banyak kurangnya dalam menulis. Masih harus banyak belajar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga mba, sama-sama berjuang yuk!

      Hapus
  20. Materi yang disampaikan diworkshop ini bagus banget ya,beruntung bisa ikutan

    BalasHapus
  21. Sama mba blog ku juga masih berantakan kadang pengen pakai gue loe, aku kamu, saya anda, tapi gimana gitu belum konsisten.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya kadang belom konsis juga 😖

      Hapus
  22. Menulis emang gak sembarangan, kadang ada yang suka asal dan gak liat pembaca nya siapa, targetnya untuk siapa .. :( Makasih kak bermanfaat banget

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, kadang bingung materi sama target pembaca nggak matching 😥

      Hapus
  23. Materi selama workshop bener2 berbobot yah mbak...banyak bgt ilmunya, banyak bgt yg harus dibenerin di blog saya 😁😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mba, rasanya kayak disentil pas tau kesalahan yg butuh perbaikan 😂

      Hapus
  24. aku nulisnya gak pake perasaan kayanya yaaaa... baca ini jadi berasa salah semua hahaha...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya masih sering ga pake perasaan, ketara banget bedanya hehehe

      Hapus
  25. Kereenn ilmunya, jadi pengen jadi penulis yang punya ciri khas dan unik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya juga, semoga kita bisa, amin!

      Hapus
  26. belajar menulis artikel emang susah. saya malahan lebih ngerasa tulisan saya kacau wkwkwk.
    beruntung bgt bisa ikut workshop ini bisa koreksi dan ngembangin cara nulis artikel di blog sendiri hmm nice anaafi.

    BalasHapus
  27. Hahaha... ya ampun, kalau ngikutin tetek bengek atuan blog mah pasti saya nggak nulis2, lah wong nulis blog bagi saya buat ngilangin jenuh kok :D tapi itu sih pilihan masing2 yah

    BalasHapus

You're free to ask or share your opinion! Boleh curhat asal jangan di luar topik ya. Tolong jaga sopan santun :)