book

Review Buku Seni Hidup Minimalis

Selasa, April 12, 2022

  Bagi yang sedang berpuasa, semoga lancar dan masih fit, ya! Beberapa hari lalu aku seneng banget, akhirnya penantian berbulan-bulan untuk membaca buku hits 'Seni Hidup Minimalis' yang ditulis Francine Jay di aplikasi iPusnas.

Review Buku Seni Hidup Minimalis

Beberapa tahun lalu marak banget yang mengajak kita untuk hidup minimalis.Hal yang masih aneh bagi warga +62. Seperti melawan arus kebanyakan yang ingin memiliki gaya hidup yang wah, jujur aku masih awam dan masih belajar. 

Di Islam diajarkan untuk hidup sederhana, bukan berati tidak bisa menikmati hidup, ya. Sederhananya seperti tidak membeli barang yang tidak dibutuhkan apalagi dalam jumlah yang banyak. 

Misalnya koleksi baju, kerudung, aksesoris, tas, sepatu, tanaman hias dan lainnya. Tanpa disadari ruang dalam rumah kita jadi sempit. Keadaan ruangan bisa berpengaruh dengan mood kita lho. 

 Di buku ini kita diajarkan banyak hal seperti 'Sedikit barang sedikit stres' Misalnya dengan banyaknya koleksi buku yang tidak hanya memenuhi ruangan, kita juga harus membersihkannya dari debu.

Atau barang elektronik yang kadang membutuhkan perawatan berkala. Seperti AC, mesin cuci, sampai peralatan pembersih rumah modern yang menggunakan listrik. Semakin banyak barang kita juga harus menyiapkan biaya untuk reparasi kedepannya. 

Kutipan favoritku dalam buku ini ada banyaak.. Misalnya 'Menyukai tanpa memiliki'. Kadang kita ingin sekali memiliki sesuatu, misalnya penulis buku yang sangat menyukai sebuah lukisan, dia membelinya dengan harapan untuk bisa menikmati keindahannya dalam rumahnya. 

Setelah membeli lukisan tersebut, awalnya ia bahagia. Namun berselang beberapa waktu, keindahan lukisan itu berkurang karena terbiasa melihatnya. Intinya, kita tidak harus membeli semua yang kita sukai untuk bahagia.

Pasti pernah mengalami deh, punya baju atau buku yang masih baru yang belum  disentuh.. /nyindir dari sendiri/

Kutipan yang menyadarkan aku dari keinginan untuk foya-foya adalah 'Setelah kebutuhan dasar dipenuhi kebahagiaan kita tak lagi ditentukan oleh banyaknya barang yang kita miliki' kalian setuju nggak? menurutku statement ini benar banget.


Dulu aku sering beli kosmetik atau skincare yang hits, semangat mencobanya dan seminggu kemudian biasa saja. Dan pernah sampai harus membuang beberapa makeup yang udah expired.. Nyesel plus diomelin ibu, wkwkwk..

Buku ini ada tiga bagian, tebal bukunya 250-an halaman. Tapi tenang aja, karena bahasa yang digunakan termasuk ringan, bisa dibaca sembari nunggu buka. 

Kalau kalian mau membaca buku ini bisa di ipUsnas, tapi bersabar untuk antri karena banyak banget peminat buku ini. Sekali pinjam buku diberi waktu 5 hari, cukup kok!

Semoga postingan ini informatif dan bermanfaat!

You Might Also Like

18 komentar

  1. Buku ini layak untuk duvacsy dan diresapi, kita disadarkan untuk berpikir sebelum membeli barang.

    BalasHapus
  2. Saya juga mulai menerapkan hidup minimalis, meskipun masih kepikiran buat beli dan berakhir menumpuknya keranjang di ecommerce, tapi gakpapa. Pokoknya kalau beli 1, berarti harus ada 1 juga yang saya kurangi. semoga bisa tetap terjaga.

    BalasHapus
  3. Benar kebanyakan barang itu bikin stress. Apalagi kalo menyimpan barang yang nggak digunakan dan sudah rusak, wkwkw.

    BalasHapus
  4. Wah ternyata ada bukunya. Kemarin dapat sharing tentnag hidup minimalis dari pelakunya yang sudah menerapkan hidup tersebut. Tapi yang jelas beliau bukan yang nulis buku itu sih. Heheh

    BalasHapus
  5. Samaaa, saya juga memulai gaya hidup minimalis. Lebih irit. Udah gak beli baju baru 10 tahunan, kecuali baju dalam. Beberapa bulan lalu malah bersih2 lemari lagi dan ngasih2 baju yang dah gak kepakai tapi masih dalam keadaan bagus ke saudara.

    BalasHapus
  6. Buku yang sangat menarik, Kak. Iya sih dipikir-pikir terkadang saya mikir juga terlalu banyak barang, beli sesuai keinginan bukan sesuai kebutuhan dll. Lebih nyaman minimalis sebetulnya. Barang termanfaatkan sesuai keadaan

    BalasHapus
  7. Setujuu hidup minimalis bukan berarti tidak menikmati hidup, apalagi godaan jaman now berat krn adana olshop diskon promo semua hanya dg menggerakkan jari saja.

    BalasHapus
  8. Saya setuju dengan cara hidup minimalis, bikin kita nggak banyak tangungan dan pikiran. karena seluruh barang yang kita punya itu memang harus kita urus, semakin sedikit diurus, semakin baik utnuk orang yang sibuk

    BalasHapus
  9. Pengingat banget, nih. Soalnya sering kepikiran terus-terusan sama barang yang disukai, tetapi setelah dimiliki kok biasa saja. Semoga ke depannya kita bisa lebih bijak, ya.

    BalasHapus
  10. Iya aku banget mbak, beli baju masih ada labelnya udah setaun belum pernah dipakai. Dan malah lupa kalau pernah beli baju itu.
    Kadang mata suka lapar pas jalan, ehh ujung ujungnya juga ga langsung dipake.
    Aku sendiri berusaha untuk sortir barang yang jarang dipake, tapi pas udah disortir masih aja merasa banyak yg belum dibuang. Kadang juga merasa sayang mau nyingkirin barang barang itu

    BalasHapus
  11. Tapi menyukai tanpa memiliki itu nyakitin nggak sih mbak, misal aku suka sama si A, eh si A sukanya ama si B, pasti sakit mbak hahahaha.

    Tapi emang, hidup minimalis itu menyenangkan, ga repot bebersihnya, ga boros juga, tapi manusia kadang ga pernah ada puasnya, apalagi sebagian banyak cewek nih, punya baju selemari aja tiap mau kondangan pasti bingung mau pake baju apa hahahha, aku sih gitu.

    BalasHapus
  12. Bukunya menarik dan bisa lebih memahami tentang gimana hidup secara minimalis. Jadi lebih fokus pada yg dibutuhkan daripada yg diinginkan

    BalasHapus
  13. Sepertinya saya harus coba untuk baca buku ini. Agar hidup saya jadi lebih minimalis lagi. Semangat hidup minimalis beb🎉

    BalasHapus
  14. OMG! Beneran deh, sampai sekarang aku tuh kaya merasa kok susah banget hidup minimalis, barang2 ku kok ya banyak banget, tapi mau dibuang2 sayang, masih bisa kepake, dan sederet alasan lainnya, tapi makin kesini makin mikir gimana nih biar bisa hidup minimalis karena banyak barang itu ribettt, apalagi kalo sering pindah-pindah tempat tinggal

    BalasHapus
  15. Dari review buku ini kita dapat lebih memahami hidup secara minimalis, memang harus seperti itu kita fokus apa dibutuhkan dari pada yang diinginkan

    BalasHapus
  16. Beli yang dibutuhkan, bukan beli yang hanya mengobati kebahagiaan semu aja.
    Bagus ini inti dari bukunya.

    BalasHapus
  17. Aku udh lama ga baca buku tebel begini. Pengen me time dgn baca ini deh soalnya aku pake aplikasi ipusnas jg.

    BalasHapus
  18. Judul bukunya menarik buat dibaca, dan diterapkan tips2nya agar bisa hidup minimalis

    BalasHapus

Jangan pake link ya, terimakasih!